PEMBELAJARAN ETHNO – STEM DALAM PEMBUATAN PRODUK DARI KULIT PISANG

Pembelajaran di masa pandemi mau tidak mau, siap atau tidak siap harus melibatkan teknologi sebagai media utama dalam penyampaiannya. Terlebih lagi, saat ini dunia memasuki era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0, maka pembelajaran siswa harus menyesuaikan zaman.

Kurikulum abad 21 yang memadukan pengetahuan, pemikiran, keterampilan, inovasi, media, literasi teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dan pengalaman kehidupan nyata harus sesuai dalam konteks pembelajaran sains. Konsep sains dihasilkan dari rekonstruksi pengetahuan masyarakat yang diintegrasikan ke dalam sains. STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics) yang saat ini sedang dikembangkan di berbagai negara adalah pilihan yang tepat untuk mengintegrasikan  etnosains tersebut.

Pembelajaran STEM memberikan kesempatan yang sangat baik untuk merangsang siswanya menjadi pemecah masalah, innovator, dan pencipta yang lebih baik. Melalui langkah-langkah pembelajaran Engineering Design Process (EDP) siswa diarahkan untuk bepikir kritis melalui langkah-langkah pembelajaran menanya (ask), membayangkan (imagine), merencanakan (plan), menciptakan (create) dan mengembangkan (improve).

Dalam konteks pembelajaran Projek Pofil Pelajar Pancasila khususnya tema berekayasa dan berteknologi untuk membangun NKRI, peserta didik di SMAN 1 Parongpong membuat projek pembuatan produk makanan dan bahan bakar alternatif terbarukan dari kulit pisang. Mengapa harus kulit pisang?

Kulit pisang selama ini belum termanfaatkan secara maksimal. Pada umumnya kulit pisang baru dimanfaatkan untuk pakan ternak sehingga nilai ekonomisnya masih rendah bahkan terkadang hanya jadi sampah rumah tangga. STEM berbasis kearifan lokal mampu merubah nilai ekonomis kulit pisang menjadi signifikan ketika diolah menjadi produk makanan bahkan produk bahan bakar alternatif terbarukan seperti bio ethanol.

Berawal dari proyek pembuatan keripik dari kulit pisang yang pernah dilaksanakan oleh siswa pada kegiatan Karya Ilmiah Remaja (KIR) kemudian siswa melakukan pengolahan yang serupa dengan keripik pisang , namun dengan bahan yang sama peserta didik membuat bahan bakar alternatif terbarukan berupa bio ethanol. Hasilnya, sangat luar biasa, produk bahan bakar berupa bio ethanol dapat dihasilkan dari proses fermentasi kulit pisang menjadi alcohol melalui proses destilasi sederhana.

Hasil dari pembelajaran berbasis STEM dengan pendekatan etnosains meningkatkan pengetahuan dan pemahaman siswa tentang sains, teknologi, enjinering/rekayasa serta matematika.

Melalui proyek STEM membuat produk makanan dan bahan bakar alternatif terbarukan berbahan dasar kulit pisang siswa mampu memanfaatkan pengetahuan dan pemahaman dalam memecahkan masalah dan membuat keputusan.Melalui pembelajaran berbasis STEM dengan pendekatan etnosains menjadi jalan untuk penguasaan ketrampilan abad 21 (berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, komunikatif). Dengan penguasaan ketrampilan abad 21 maka siswa siswi akan lebih mampu bersaing menghadapi era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0.

 

-Nu’man Yasir, M.Pd-

 

ABOUT US

MAPS

SOCIAL

Copyright © 2022   IT SMANPAR